Muslim harus kaya,miskin itu pilihan part 2

Tridasa menjelaskan, yang membuat orang Islam miskin karena salah mindset, selama ini sebagian ummat Islam kerja jadi kuli uang, kerja keras sampai malam namun gajinya dihabiskan untuk beli barang konsumtif. Misalnya buat kredit mobil, kredit motor, kredit perabotan rumah tangga dan sebagainya.

“Kita nyarinya sangat lelah, tapi mengeluarkannya gampang banget ini lah mental kuli uang.”

Tridasa menyarankan, sebaiknya uang gaji yang dikeluarkan untuk sesuatu yang produktif, bukan konsuntif dan bisa menjadi aset, misalnya buat beli tanah, rumah, atau emas.

“Mobil atau motor kalau di jual nilainya akan menyusut. Berbeda dengan rumah atau tanah tiap tahun harganya naik. Kita juga terlalu berfikir panjang jika mengeluarkan uang untuk infaq atau shodaqoh, tapi untuk beli barang kreditan tidak berfikir panjang.” ungkapnya.

Kesalahan mindset berikutnya karena sedikit ummat Islam yang mau terjun ke dunia bisnis. Padahal dengan berbisnis peluang untuk kaya lebih terbuka. Menurutnya, perbedaan mendasar antara pekerja dengan pebisnis adalah pekerja berpikir bagai mana menghabiskan uang dari hasil gajihnya.

“Sementara, pebisnis berfikir dan bertindaknya bagaimana menghasilkan uang yang banyak untuk memenuhi standar hidup mewahnya.”

Menurutnya, istilah mengais rezeki kurang tepat, yang benar adalah kita harus ‘menerkam’ rezeki. Karena kalau mengais rezeki dapatnya sedikit, seperti Singa yang bisa menerkam hewan yang lebih besar. Demikian juga dengan berbisnis, adalah salah satu jalan untuk mendapat penghasilan lebih besar tentu dengan cara halal.

“Mari rubah mindset kita. Jadilah muslim yang bermental pebisnis, karena ini jalan yang pas untuk menjadi kaya,” imbuhnya.

 

Reporter: Cipto

 

Muslim harus kaya,miskin itu pilihan part 1

MediaTangerang.com, – Sebenarnya, Allah SWT menakdirkan ummat Islam jadi kaya, hal ini bisa dilihat dari negeri-negeri muslim yang menghasilkan kekayaan sumber daya alam. Misalnya negara Arab kaya akan minyak tanah, dan Sumatera banyak menghasilkan batu bara.

“Namun sayang negeri-negeri muslim tersebut tidak pandai mengeksploitasinya. Padahal kekayaan semberdaya alam itu modal untuk mensejahterakan penduduknya,” kata Agus Tridasa, trainer saat mengisi acara buka puasa bersama kader PKS Serpong Utara di Masjid Baitul Hanif, Pakujaya, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), baru-baru ini..

Tridasa mengatakan, dalam Al-Qur’an pun, banyak ayat yang menyandingkan sholat dengan zakat. Ini maknanya apa? Artinya orang islam itu harus kaya. Jadi kalau sudah sudah sholat tapi belum kaya, pasti ada yang salah dengan sholat kita.

“Kita ditakdirkan kaya, caranya dengan menikmati sholat kemudian minta hak kepada Allah SWT untuk kaya. Namun kita sendiri yang memilih menjadi miskin,” ujar pengusaha properti ini.

Bersambung….

 

Gerbong KRL pun Berubah Menjadi Pesantren part 1

Koran sindo,29 juni 2015

JAKARTA – Ada pemandangan yang tidak lazim di kereta rel listrik (KRL) rute Parung Panjang-Tanah Abang, Kamis (25/6) siang.

Lantunan merdu ayat Alquran terdengar sayup-sayup di salah satu gerbong kereta tersebut. Suaranya seakan sahut-menyahut. Kadang lantunan itu jelas, kadang seakan hilang karena kalah dengan kerasnya decit bunyi rem kereta. Suara-suara merdu Alquran itu dilantunkan puluhan remaja perempuan yang memenuhi bangku di gerbong ketiga.

Karena kebetulan penumpang tak terlalu berjubel, mereka tampak rapi duduk memenuhi bangku di sisi kanan dan kiri. Tangan sekitar 80-an perempuan berhijab itu tampak memegang erat Alquran kecil karena KRL sering bergoyang-goyang. Kendati begitu, mereka tampak khusyuk mendaras Alquran meski penumpang juga keluar masuk ketika KRL berhenti tiap stasiun.

Puluhan pendaras dadakan ini merupakan santri-santri putri Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keberadaannya di KRL di siang nan terik itu bukan untuk promosi KRL ataupun kegiatan pesantren. Layaknya penumpang lain, mereka tengah bepergian. ”Kami naik dari Serpong mau ke Bekasi, silaturahmi ke salah satu teman sekaligus khataman,” ujar Jihan Afifah, 15, salah satu santri.

Bersambung…..