Katalog baru

Hai sahabat paloma…apa kabarmu hari ini?? Nikmati liburan bersama keluarga tersayang,moment-moment indah bersama teman atau kamu juga bisa memanfaatkan untuk mengasah kemampuan bisnismu lewat acara seminar atau pelatihan bisnis.

So….don’t worry be happy….

Horeee…katalog baru bentar lagi terbit..

Katalog baru edisi 42 sebentar lagi laounching…katalog edisi kali ini tampilannya lebih ngenjrenggg…merah merona…tetap keren, update dan oke punya…

Katalog kali ini berisi model-model baju yang elegan, modis untuk penampilan hari raya natal anda…baju muslim tetap sippp melengkapi tampilan keseharian dan pesta anda, untuk alat rumah tangga panci set masih menjadi best seller…jangan lupa sabun cair dari susu kambing etawa menjadi top the top sepanjang tahun ini…

Pokoknya keren abis…ayo buruan order ke 082178090000(wa/sms) pin 7d290685…

Gerbong KRL-pun berubah menjadi pesantren part 2

Kehadiran Afifah dan puluhan teman-temannya tak ayal menyulap gerbong KRL seakan menjadi pesantren dadakan. Suasana gerbong ramai dengan para penumpang, tapi bukan penumpang biasa, melainkan yang tengah mengaji dan sebagian lagi menghafal Alquran. Soal mengaji di KRL, Afifah mengaku sama sekali tak diperintah oleh pimpinan ponpes.

Sebagai santri ponpes penghafal Alquran, menurut remaja asal Tanah Abang, Jakarta Pusat ini, Alquran adalah kitab suci yang tak bisa dilepaskan dari aktivitas hariannya. Lebih-lebih di bulan yang penuh berkah dan limpahan pahala ini, menurut dia, para santri berlomba mendaras sebanyakbanyaknya. ”Alhamdulillah puasa ini sudah khatam satu kali,” ujar remaja yang belum lama ini khatam menghafal 30 juz Alquran tersebut.

Atiqah, 15, santri lainnya juga mengaku sudah hafal Alquran setelah tiga tahun mondok di Darul Quran Mulia. Seusai kelulusan, Atiqah dan santri lain kini diberi kebebasan sejenak memegang ponsel. Di sela mengaji di KRL, mereka juga sesekali membuka-buka ponsel untuk chatting, mendengarkan musik lewat headshet atau sekadar bermain.

Meski pemandangan tak biasa, kehadiran puluhan santri ini justru mendapat sambutan baik sejumlah penumpang lain. Mereka tampak tak terganggu. Bahkan mereka menilai hal ini bisa jadi inspirasi agar penumpang terbiasa memanfaatkan waktu luang, lebih-lebih saat Ramadan. ”Jujur salut, perlu dibudayakan di luar Ramadan,” ujar Ramli, salah satu penumpang asal Ciputat, Tangerang Selatan.

Di Bulan Suci dan di tengah kesibukan yang tinggi, banyak warga Jakarta memang terpaksa menjalankan ritualritual ibadah sunah di ruang publik. Mereka tetap berupaya mencari keberkahan Ramadan ini tanpa mengurangi intensitas pekerjaannya. Basori, PNS yang berkantor di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat mengaku tiap di KRL sebisa mungkin dia menyempatkan untuk mendaras Alquran.

Tak harus menenteng kitab suci, mendaras kini lebih praktis seperti lewat smartphone. Dengan cara ini, dia berupaya bersikap adil (ta’ adul ) dalam membagi waktu antara bekerja dan beribadah. Banyaknya keutamaan dan keberkahan di bulan Ramadan membuat orang tak ingin melewatkan begitu saja.

Umumnya mereka merasakan keteduhan yang sangat berbeda saat menjalankan ibadah ketimbang hari biasa. Bahkan Ramadan justru terasa lebih merekatkan persaudaraan antarsesama. ”Saya pernah saat berbuka di KRL, tanpa dikomando penumpang saling berbagi takjil. Ini keren dan membuat trenyuh,” tutur Mubarak, warga Depok.

Mengaji, saling menghargai sesama (tasamuh ), dan berbagi inilah potret kecil tradisi pesantren yang tak terasa telah dilakukan sebagian orangorang Jakarta kala di ruang publik. Di tengah tekanan hidup ibu kota yang kian ketat, nilai-nilai spiritualitas, kesederhanaan dan kebersahajaan itu menjelma meski baru sebatas kala Ramadan.

 

Abdul Hakim

 

Muslim harus kaya,miskin itu pilihan part 2

Tridasa menjelaskan, yang membuat orang Islam miskin karena salah mindset, selama ini sebagian ummat Islam kerja jadi kuli uang, kerja keras sampai malam namun gajinya dihabiskan untuk beli barang konsumtif. Misalnya buat kredit mobil, kredit motor, kredit perabotan rumah tangga dan sebagainya.

“Kita nyarinya sangat lelah, tapi mengeluarkannya gampang banget ini lah mental kuli uang.”

Tridasa menyarankan, sebaiknya uang gaji yang dikeluarkan untuk sesuatu yang produktif, bukan konsuntif dan bisa menjadi aset, misalnya buat beli tanah, rumah, atau emas.

“Mobil atau motor kalau di jual nilainya akan menyusut. Berbeda dengan rumah atau tanah tiap tahun harganya naik. Kita juga terlalu berfikir panjang jika mengeluarkan uang untuk infaq atau shodaqoh, tapi untuk beli barang kreditan tidak berfikir panjang.” ungkapnya.

Kesalahan mindset berikutnya karena sedikit ummat Islam yang mau terjun ke dunia bisnis. Padahal dengan berbisnis peluang untuk kaya lebih terbuka. Menurutnya, perbedaan mendasar antara pekerja dengan pebisnis adalah pekerja berpikir bagai mana menghabiskan uang dari hasil gajihnya.

“Sementara, pebisnis berfikir dan bertindaknya bagaimana menghasilkan uang yang banyak untuk memenuhi standar hidup mewahnya.”

Menurutnya, istilah mengais rezeki kurang tepat, yang benar adalah kita harus ‘menerkam’ rezeki. Karena kalau mengais rezeki dapatnya sedikit, seperti Singa yang bisa menerkam hewan yang lebih besar. Demikian juga dengan berbisnis, adalah salah satu jalan untuk mendapat penghasilan lebih besar tentu dengan cara halal.

“Mari rubah mindset kita. Jadilah muslim yang bermental pebisnis, karena ini jalan yang pas untuk menjadi kaya,” imbuhnya.

 

Reporter: Cipto

 

Gerbong KRL pun Berubah Menjadi Pesantren part 1

Koran sindo,29 juni 2015

JAKARTA – Ada pemandangan yang tidak lazim di kereta rel listrik (KRL) rute Parung Panjang-Tanah Abang, Kamis (25/6) siang.

Lantunan merdu ayat Alquran terdengar sayup-sayup di salah satu gerbong kereta tersebut. Suaranya seakan sahut-menyahut. Kadang lantunan itu jelas, kadang seakan hilang karena kalah dengan kerasnya decit bunyi rem kereta. Suara-suara merdu Alquran itu dilantunkan puluhan remaja perempuan yang memenuhi bangku di gerbong ketiga.

Karena kebetulan penumpang tak terlalu berjubel, mereka tampak rapi duduk memenuhi bangku di sisi kanan dan kiri. Tangan sekitar 80-an perempuan berhijab itu tampak memegang erat Alquran kecil karena KRL sering bergoyang-goyang. Kendati begitu, mereka tampak khusyuk mendaras Alquran meski penumpang juga keluar masuk ketika KRL berhenti tiap stasiun.

Puluhan pendaras dadakan ini merupakan santri-santri putri Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keberadaannya di KRL di siang nan terik itu bukan untuk promosi KRL ataupun kegiatan pesantren. Layaknya penumpang lain, mereka tengah bepergian. ”Kami naik dari Serpong mau ke Bekasi, silaturahmi ke salah satu teman sekaligus khataman,” ujar Jihan Afifah, 15, salah satu santri.

Bersambung…..

 

Fakta! Banyak Sedekah Makin Sehat dan Bonus Pahala part 1

Sesungguhnya segala hal yang Allah Subhanahu Wata’ala syariatkan adalah baik bagi diri, orang lain dan tentu saja kehidupan semesta, tidak terkecuali perintah sedekah.

Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan umat-Nya untuk bersedekah, baik dalam rangka jihad fi sabilillah, membantu sesama atau pun memuliakan anak-anak yatim. Akan tetapi, sebagaimana fitrah manusia itu sendiri, kecintaan terhadap harta dan kemewahan seringkali membuat sebagian orang tidak mampu melihat dan merasakan kedahsyatan dari amalan yang sangat dianjurkan ini.

Dan, di sini muncul pertanyaan, bagaimana sistem penjelas yang bisa dipahami ketika seorang Abu Bakar menyedekahkan seluruh yang dimilikinya, Umar separuh yang dimilikinya dan Utsman bin Affan serta Abdurrahman bin Auf yang tak pernah pikir panjang dalam hal sedekah.

Satu-satunya jawaban yang populer untuk menjelaskan perilaku sahabat Nabi yang sangat dermawan itu adalah karena iman. Belum ada sampai saat ini – setidaknya yang penulis temukan – sistem penjelas yang secara rasional mencerahkan.

Namun demikian, perjalanan waktu mengantarkan sains dan teknologi menemukan keajaiban-keajaiban dari syariat Allah yang diamalkan oleh manusia.

Penelitian Membuktikan

Secara fisik berbagi dan bermurah hati terlihat merugikan. Namun fakta lain justru sebaliknya. Sebelum ini, peneliti sudah menemukan istilah “warm-glow-effect’, sebuah fenomena ekonomi yang pernah dijelaskan oleh James Andreoni tahun 1989, dimana menunjukkan orang yang beramal, berbagi dan bermurah hati justru berdampak positif atas kemurahan hati mereka atau disebut “warm-glow effect” (efek-cahaya pemberi). Perasaan positif ini didapatkan atas tindakannya memberi atau membantu orang lain.

Bersambung….